We Got The Better

17 Mei

Hyun Rin P.O.V

Kini terwujud. Sore ini aku ada di Incheon airport, untuk kedua kalinya. Kembali ke tempat dimana aku lahir, Korea. Pada umurku yang ke 12, aku sekeluarga pindah ke Indonesia. Mungkin ini kebetulan, kudapatkan beasiswa hingga akhirnya kembali kesini. Aku terlahir di Korea, namun aku hidup sebagai orang Indonesia. Walau hanya beberapa tahun, ini semua telah mengubahku. Bukan berarti aku melupakan tanah airku, welcome Korea🙂

Aku duduk sambil menunggu eonnie untuk menjemputku. Eonnie juga kuliah di Korea. Hanya bedanya aku karena mendapatkan beasiswa, sedangkan eonnie memang keinginannya sendiri. Aku duduk sendiri menatap orang – orang berlalu lalang. Sungguh, sangat membosankan. Tiba – tiba ada namja tampan datang duduk disampingku. Entah mengapa, aku merasa sangat kaku berada disampingnya. Begitu tegangnya, aku hampir tak menyadari HPku berdering. “Sekitar 20 menit lagi” tentu saja sms dari eonnie. Menurutku ini tak perlu dibalas, kumasukkan HPku langsung kedalam saku. Kusadari namja tampan sudah tak duduk lagi disampingku, hanya ada sebuah handphone tergeletak.

Kulihat dia belum jauh dari tempatku, “Ahjusshi!” teriakku. Aku berlari menghampirinya sambil membawa handphone tadi. “Waeyo?” Ia tampak terkejut karena aku tiba – tiba menghampirinya. “Ini handphone milikmu kan?” aku bertanya sambil menyodorkan handphone yang tadi aku temukan. Tapi mukanya justru terlihat seperti curiga aku yang mencurinya. “Tadi aku menemukannya di tempatmu duduk tadi, sebelahku” tambahku menjelaskan. “Aah, ne” Ia hanya mengambil handphonenya dan tersenyum lalu pergi begitu saja. “Tidak berterimakasih sama sekali” keluhku dalam hati.

*skip*

Akhirnya aku sampai di apartment milik kakakku. Karena terlalu lelah berjam – jam berada di pesawat, begitu sampai kamar, aku langsung membanting tubuhku ke kasur. Sambil melemaskan otot, entah mengapa yang terbayang hanyalah senyum namja tadi. Mungkin ini pertama kalinya aku melihat senyum semanis itu. “Namja tadi, neomu aegyo” kataku sambil menyanggah kepalaku. “Ah, sedang apa aku ini? Untuk apa memikirkan orang yang sama sekali tak ku kenal!” ia membuatku memarahi diriku sendiri. Kuputuskan untuk menonton tv, sebelum aku kembali terlarut dalam lamunanku.

 *skip*

        Aku pergi ke ruang tamu, tentunya ada tv disana. Kulihat kakakku sedang asyik menonton tv. “Apa yang sedang kau tonton?” lalu aku duduk disampingnya. “Hanya informasi tentang selebritis” jawabnya singkat. Evilku kambuh, “ Suka gossip juga ternyata :p”. Ia sama sekali tak menggubris omonganku. “Coba lihat! Bukankah ia sangat tampan?!” Dan yang kulihat di layar tv adalah namja tampan yang sedang di wawancarai sambil tersenyum sangat manis. Tunggu, aku seperti pernah melihatnya! Bahkan bertemu dengannya! Aah tidak, bahkan bertatapan!      “Siapa Namanya?” Entah apa yang kupikirkan tiba – tiba kutanyakan ini pada kakakku. “Donghae, Lee Donghae. Jangan – jangan kamu suka yaa?” Jawab kakakku yang jelas jelas sedang meledekku. “Mwoeyo? Aniya!” Jawabku ngambek sambil mengganti channelnya.

“Aah. Mengapa hari ini penuh denganmu, Lee Donghae”

*skip*

Hari kedua kembali ke Korea kegunakan untuk berkeliling kota Seoul dulu, sebelum aku mulai kuliah. Aku masih ingat beberapa, tidak semuanya berubah disini.

Sudah berjam – jam aku jalan – jalan. Siang ini aku mampir ke Café berniat mengisi perutku yang kelaparan. Namun saat aku hendak memanggil pelayan untuk memesan makanan, untuk kedua kalinya aku bertemu dengan Donghae. Ya, aku tahu namanya! Dia adalah Lee Donghae member Super Junior. Aku belum pernah mendengar boyband ini walaupun sudah sangat terkenal, bahkan mendunia. Aku tahu semua itu dari yang kemarin aku tonton di tv. Hari ini ia sama seperti kemarin, memakai topi dan kacamata hitam, mungkin agar tak dikerumuni oleh para fansnya.

“Walaupun ia artis terkenal, menurutku ia tak perlu kupedulikan. Dia bukan siapa – siapaku.” Kataku hanya dalam hati.

*skip*

        Makanan sudah ada di depanku sekarang. “Bodoh sekali aku! Kenapa bisa lupa pesan minum?!” Mungkin aku mengatakan ini terlalu keras. “Ini ambillah!” entah kebetulan atau apa, Donghae ada di disampingku sekarang! Menjulurkan tangan yang menggenggam segelas kopi dan seperti biasa, ia tersenyum! Oh Tuhan, bagaimana bisa kau ciptakan makhluk dengan senyuman semanis ini?!

“Ne, gomawo” Tanpa berpikir panjang aku langsung menerima kopi itu. Sihir apa yang kau gunakan Donghae?! Hanya dengan senyuman kau benar – benar membuatku luluh.

“Bolehkah aku duduk disini?” Ia menunjuk kursi didepanku. “Tentu saja” jawabku cepat. Entah apa yang membuatnya ingin duduk didepanku. Kami makan bersama satu meja, ia membuatku sangat kaku. Baru melahap beberapa suap, tiba – tiba.. “Gomawo” katanya, aku tak mengerti maksudnya. “Waeyo? Apa ada yang kulakukan untukmu?” tanyaku penasaran. “Kemarin kau mengembalikan handphoneku. Aku baru berterimakasih sekarang, mianhaeyo”. “Gwenchaneyo” jawabku sambil tersenyum, yang jelas kalah dengannya.

“Aah, ne. Kita belum berkenalan. Namaku Donghae, Lee Donghae.” Ia berkata sambil mengulurkan tangan. “Hyun Rin, Shin Hyun Rin” jawabku singkat sambil menelungkupkan tangan di depan dada. Aku biarkan tangan itu menganggur, aku tak bisa menjabat tangan itu. Ya, karena aku seorang muslim. Aku perempuan berjilbab, bersentuhan dengan pria selalu kuhindari. Itulah keyakinanku sejak berada di Indonesia. Wajahnya terlihat heran, tapi tapi tak aku pedulikan, aku terus melanjutkan makan.

“Mianhaeyo, aku pergi dulu” Aku bergegas pergi meninggalkannya, sendirian. Biarlah, aku tak perlu merasa bersalah.

*skip*

Tak terasa, hari sudah berganti lagi. Pagi ini, aku akan mulai kuliah. Aku sengaja berangkat lebih pagi, setidaknya agar aku lebih bisa mengenal kampus baruku ini.

Aku duduk di taman kampus, kulihat bunga warna – warni menghiasi taman. “Hyun Rin!” Terdengar seperti suara namja, tengak tengok aku mencari siapa yang memanggilku, ternyata.. “Kau Hyun Rin kan?” tanyanya begitu menghampiriku. “Ne, tapi kau siapa?” Aku benar – benar tak mengenal namja satu ini. “Kenalkan aku Eunhyuk, sahabat Donghae. Ia pernah bercerita tentangmu” Donghae pernah bercerita tentangku? Kami baru bertemu dua kali, tapi? Tidaak. Mungkin ia hanya ingin bercerita tentang handphonenya yang ketinggalan, lalu menyebut namaku. Tapi kenapa Hyuk tau wajahku? “Apa saja yang Donghae ceritakan tentangku?” tanyaku ingin tau, menghilangkan dugaanku yang hampir tak masuk akal. “Dia bilang, kau itu perempuan berjilbab yang..”

“Hyun Rin-sshi!” omongan Hyuk terpotong karena panggilan itu. Aku menoleh dan, Donghae sedang berjalan menghampiri kami. Yang aneh bagiku yaitu, kenapa harus aku yang dipanggil? Mengapa bukan Hyuk sahabatnya? Dan aku hanyalah orang baru yang masuk dalam kehidupannya. Dugaanku lagi lagi.

“Lihatlah ia!” Hyuk berbisik padaku dan matanya seperti menunjukkan sebuah kode. Kode apa ini? Mereka benar – benar membuatku bingung.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Donghae bertanya begitu berada di hadapan kami. Belum sempat menjawab,  “Ayo kita masuk! kau jurusan seni kan? ” kata Donghae sambil hendak menggandeng tanganku lalu menarikku. Tapi, tanganku mengelak. “Ayo” jawabku membalas Donghae sambil berjalan menuju kelas. “Hyuk, aku tinggal dulu yaah!” Donghae berjalan sambil melambaikan tangan pada sahabatnya itu, lalu berlari mengejarku dan berjalan beriringan denganku.

*skip*

Aku dan Hae satu kelas, jurusan seni. “Ayo duduk sebelahku” menawarkannya padaku dan tentu saja sambil tersenyum sangat manis, akupun mengangguk.

“Pagi anak anak” sapa Dosen seketika masuk ke dalam kelas.

*skip*

“Pelajaran hari ini cukup. Saya akan memberikan tugas pertama untuk kalian. Satu kelompok cukup dua orang”. Setelah menjelaskan tugas apa yang harus dikerjakan, semuanya berkemas. “Hyun Rin-sshi” Hae memanggilku lirih. “Ne, waeyo?” balasku masih sedang mengemas barangku bersiap untuk pulang. “Kita sekelompok yaa?” wajahnya agak genit. “Bisa” jawabku lalu menatapnya. Oh Tuhan, dia tersenyum lagi! Senyuman ini memang sudah tak asing bagiku. Tapi ini serasa belum pernah kulihat, manis sekali. Sungguh, mulai sekarang. Kau bukan lagi orang biasa bagiku, Lee Donghae.

*skip*

Satu semester sudah kujalani. Bersahabat dengan dua orang, Donghae dan Eunhyuk. Karena mereka, sekarang aku suka Super Junior. Mereka selalu saja memutar lagu SuJu, bercerita tentang mereka dan juga sering mengajakku bertemu dengan member lain. Mungkin aku termasuk fan yang beruntung.

Hae mengajakku untuk merayakan satu semester yang sudah kami jalani bersama ini. “Hanya kita berdua?” tanyaku padanya. Tapi ia justru terlihat gugup, “Aniya, Hyuk akan ikut. Jika kau mau, kau bisa mengajak teman yoeja mu”. “Baguslah. Tidak perlu, sampai sekarang aku belum menemukan sahabat yoeja di Korea. Yang ada hanyalah kalian” aku tersenyum, mencoba untuk semanis senyumnya. Tapi aku rasa tak mungkin.

“Jam 3 jangan lupa di café yaa” Hae mengingatkan saat aku hendak pulang.

*skip*

Aku dan Hae sudah di café sekarang. Café dimana tempat Hae menawarkan kopi untukku sambil tersenyum manis, tempat yang tak akan kulupakan, dan mungkin juga bagi Hae.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku pada Hae karena sudah cukup lama menunggu Hyuk yang belum datang juga. “Jam 4” jawabnya singkat. Handphone Hae berbunyi, itu sms dari Hyuk. Ia tak bisa datang karena keluarganya yang ingin merayakannya. Akhirnya, kami hanya berdua merayakan ini.

*skip*

        Sedari tadi, kami terus bercanda. Melihatnya tertawa membuatku bahagia, sangat bahagia. Tentu semua ini ada alasannya.

“Aah ne. Ada yang tertinggal di mobil, kamu bayar dulu saja yaa” Katanya setelah kami selesai makan sambil menyerahkan dompetnya, lalu pergi begitu saja. “Baiklah” Kubuka dompet Hae dan, ada selembar foto disana. Bukan fotonya, melainkan fotoku. Foto saat aku ada di Incheon Airport, tempat dimana kami pertama bertemu. Aku terkejut namun aku juga bahagia, mungkin saja perasaannya sama denganku. Tapi aku tak pernah berharap ini semua terjadi. Ini semua justru akan membuatnya terluka.

Kulihat Hae sudah dekat menuju kemari, untunglah aku tidak sampai menangis. Segera aku bayar makanan yang kami beli.

“Sudah?” tanyanya langsung ketika menghampiriku. “Sudah, apa yang kau ambil tadi?” aku penasaran apa yang diambil Hae tadi. “Mau tau? Ayo ikut aku!” jawabnya tanpa hendak menggandengku, mungkin ia sudah mengerti aku sekarang.

*skip*

Entah kemana ia mengajakku, aku terus berjalan mengikuti Hae. “Mau kemana kita?” , “sudah ikut sajaa” jawabnya lugas.

“Nah sampai!” Sambil tersenyum lebar ia bertanya “Kau suka?” . “Sungai Han? Tentu saja, aku sangat menyukainya”

Setelah cukup lama memandangi sungai han, “Hyun Rin-sshi?”

Ia memanggilku lalu menatapku. “Ne” jawabku sambil terus menghadap sungai han. “Hyun Rin-sshi?” ia memanggilku lebih keras. “Ne” aku menghadap Hae, mungkin ini yang dia inginkan.

Kami sudah lama berhadapan. Tapi tak sepatah katapun darinya. “Saranghaeyo” kata Hae tiba-tiba lalu mengeluarkan barang yang ia ambil tadi. “Jeongmal saranghaeyo” menyodorkan tangan, ada sebuah cincin di tangannya.

Sejak awal aku tau, ada yang aneh dengannya. Apakah kau sudah merasakannya sejak awal? Apakah ini mengapa kau mengambil gambarku saat kita pertama bertemu? Apakah ini mengapa kau selalu memberiku senyuman manis itu?

Aku diam sesaat, apa yang harus aku lakukan? Ini sungguh pilihan yang sulit. Nado saranghaeyo! Tapi aku benar-benar tak bisa. “Mianhaeyo, oppa” jawabku lirih. Aku tak menerima cincin itu. “Waeyo?” Jawab Hae cepat. Mungkin hatinya sakit, tapi itu juga kurasakan. “Aku tidak menolakmu. Hanya saja, aku tak bisa menerima cintamu” Aku mecoba tersenyum, tapi tak ada senyum di wajah Hae. Air mataku menetes, sungguh sangat merasa bersalah, apakah aku membuat senyum manismu menghilang?. Mianhaeyo, jangan bersedih karenaku. Jangan berhenti tersenyum karenaku. Tersenyumlah, kumohon. Bagiku ini sudah sangat cukup.

“Perbedaan kita terlalu jauh” tambahku. “Apa itu?” Hae mungkin bingung. “Keyakinan” Kujawab lalu bergegas pergi. Mianhaeyo, mianhamnida, Donghae.

*skip*

Donghae P.O.V

Keyakinan? Hyun Rin benar. Ini perbedaan yang jauh, sangat jauh. Ia selau menghindariku, bahkan hanya untuk memegang tangannya. Keyakinanku tentu berbeda dengannya.

“Gomawoyo Hyun Rin-sshi. Kau mengajariku perbedaan, meski sangatlah sakit. Saranghaeyo” mungkin hanya ini yang bisa kukatakan padanya.

*skip*

Sudah sekitar dua minggu kami tak berkomunikasi. Kami sudah tak duduk semeja lagi, bertiga berkumpul di café, banyak yang masih bisa kita lakukan, buogoshiepoyo. “Mungkin ini saatnya aku bertemu dengannya. Aku pasti kuat” kataku dalam hati. Mencoba untuk menguatkan diriku. Aku hanya perlu mencintainya, bukan memiliki.

“Hyun Rin-sshi, bisa kita bertemu sekarang di Sungai Han? Aku akan menunggumu.” Kukirim sms untuk Hyun Rin.

*skip*

        Sungai Han masih terlihat sangat indah, apalagi Hyun Rin ada disampingku sekarang. Kami berdua benar benar membisu, tak ada yang berani bicara terlebih dahulu. Mungkin, karena luka kami yang terlalu dalam.

“Serasa lama sekali tak bertemu kan?” kuputuskan untuk memulai pembicaraan. “Apa kau sudah mengerti sekarang? Tanya Hyun Rin langsung saja, tapi dengan nada lembut. Kami saling berhadapan sekarang, mencoba membohongi diri masing-masing. “Perbedaan? Ne, arraseo. Untuk itulah aku mengajakmu kesini” aku tersenyum, aku tak ingin menbuatnya menangis, sungguh.

“Hyun Rin-sshi” panggilku lirih. Perlahan bicara dengannya, mungkin tak terlalu menyakitkan. Terlihat jelas, dia menahan tangisnya, mencoba tersenyum. Aku sudah melatih diriku agar kuat untuk ini. Ayolah Hyun Rin, Kau harus kuat. Kita hadapi bersama. Ini keputusan kita berdua. Memang sakit, bahkan sangat sakit.

“Aku putuskan sekarang. Kita tak akan bersama” kata-kataku ini memang terlalu menyakitkan. Hyun Rin menangis, mungkin tak kuat lagi menahannya. Sungguh, aku sama sekali tak ingin melihatmu menangis, apalagi karnaku.

“keyakinanku tak akan berubah. Mungkin juga denganmu. Akan kubebaskan kau mencari namja lain. Aku tak akan mengubur cinta ini. Aku akan menjaganya. Saranghaeyo” Hyun Rin-sshi, jangan menangis. Aku mohon. Kau kuat, tanpaku.

“Aniya, aku tak akan mencari namja lain. Aku ingin selamanya mengingatmu sebagai cintaku, Lee Donghae”

~ END ~

Created By: AdminNA

Mian yaa kalo jelek🙂 adminNA ga terlalu pinter bikin FF, ini juga yang pertama kalinya ._.

4 Tanggapan to “We Got The Better”

  1. 김 은어 (@ayunadini) Juni 1, 2012 pada 2:40 pm #

    ceritanya bagus kok.. bikin terharuu :’)

  2. Jung Hyun Won ( HyunA ) Juni 7, 2012 pada 11:11 am #

    Kasiaan banget😥 bagus thor!

  3. mingi Juni 15, 2012 pada 5:12 am #

    Kenapa donghaenya gak masuk Islam aja? :”’) bikin sedih :”D bagus banget thor ceritanya! Daebak banget banget banget😀 !

  4. ELF Desember 22, 2012 pada 2:54 pm #

    Ya jangan dong! Msak donghae smpe pindah keyakinan!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: